I Lost My Page, again!

Awwwhh! Hilang lagi semangat gw!! Kayaknya gw mulai masuk dalam fase kehilangan jati diri gw. Atau malah kebalik, gw ketemu ama diri gw yang sebenernya. Basi banget yahh!!
Gini lho, ini khan udah mau UTS. Mustinya gw tambah rajin belajar. Itu ambisi gw pas awal-awal semester. Mau naikkin IPK. Tapi kok sekarang jadi laen yah. Yang tadinya gw fokus banget ke kampus buat belajar, sekarang ada sesuatu yang berubah, nggak tau apa. Perhaps, it's all about... Sorry, I can't mention it.
Semua ini berawal dari satu getar sel abu-abu. Penuh pertanyaan, tapi tanpa pertentangan. Jadinya cuma berputar-putar di tempat ajah. Bukannya sok mellow, yah! But that's the way I am. Mau sekeras apa gw coba untuk berubah, ini tetep hidup gw. Dan memang, perubahan bukan satu-satunya jalan keluar dalam masalah ini. Mungkin ini memang yang terbaik buat gw. About how I get along with this. With the real me.

Does it works?

Masih berbicara tentang tugas Komunikasi Bisnis gw. Akhirnya, setelah perjuangan panjang, tugas itu selesai juga. Meski ada beberapa hal yang bikin bete. Gara-gara deadline hari senin, gw ngerjain tugas itu mati-matian, malah sampe bergadang ama si Echa, muter-muter Bogor pula, tapi ternyata... eeehh, dosennya gak dateng!! Adawwhh!! Deritaku. Sabar, Her, puasa nih!!
Anyway, dalam tugas itu, kita disuruh membuat sebuah ilustrasi tentang pendekatan persuasif ketika kita menyampaikan kiritik pada orang lain. Dan jadilah sebuah cerita pendek yang dikarang dengan nafas tersengal-sengal. Jam 4 kuliah, mulai ngarang jam 3 pas!! Okay, ini ceritanya!

Cintaku, jangan telat donk, say
Riona dan Fred (keduanya nama samaran) sudah cukup lama berpacaran. Kira-kira 4 tahun sejak pertemuan pertama mereka di pentas seni antar pelajar SMU di Bogor. Fred sudah tahu betul watak Riona, begitupun sebaliknya, Riona sudah kenal betul siapa Fred.
Suka dan duka mereka lewati bersama selama menjalin hubungan, namun ada satu hal yang mengganjal di pikiran Riona dan selalu menghias di setiap pertemuan-pertemuan mereka berdua. Terlambat. Ya, Fred selalu terlambat datang jika mereka telah berjanji untuk bertemu. Kadang-kadang lima menit atau sampai sepuluh menit. Bahkan Riona pernah terpaksa menunggu hampir satu jam di salah satu sudut pertokoan gara-gara Fred harus mengurusi kepentingan teman-temannya. Tidak jelek memang, namun akan lebih baik apabila kita memegang teguh komitmen dan menjalaninya. Seringkali Riona marah. Tapi begitulah Fred, masih saja telat.
Riona mengerti sekali akan hal itu, ia kenal betul Fred. Fred memang terkadang lalai akan kewajibannya dan pikirannya yang kurang fokus terhadap suatu masalah. Tapi justru itulah yang membuat ia tertarik untuk selalu dekat dengan Fred. Romantis, yah! Ironis pula. Tapi bagaimanapun juga, kebiasaan telat ini harus dihentikan.
Beberapa pekan sebelum tahun baru, mereka berjanji bertemu untuk memilih kado untuk adik Riona. Riona betul-betul bertekad untuk merubah kebiasaan Fred yang selalu telat. Ia datang lebih awal-seperti biasa-namun tidak duduk di tempat yang ia janjikan. Ia berdiri agak menjauh sambil memperhatikan kedatangan Fred. Fred datang, akhirnya, setelah duapuluh menit dari waktu yang dijanjikan. Ia duduk, bengong, memandang orang yang berlalu-lalang. Ia tampak sesekali memandang arlojinya.
Sudah empat puluh menit Fred menunggu. Banyak pikiran yang melintas di otak Fred. Dan salah satunya, dia jadi tahu betul bagaimana rasanya menunggu-yang konon seringkali dirasakan oleh Riona.
Riona akhirnya memutuskan untuk menghampiri Fred dan muncul tiba-tiba dari arah belakang. "Nggak terlalu kesel kan, menunggu itu?" sambil tersenyum, "asyik lho, kita jadi punya banyak waktu untuk merenung, sambil liat orang lewat". Riona tidak bermaksud untuk membalas, karena Riona memang selalu tepat waktu. Ia hanya ingin Fred lebih mengerti dan lebih memegang janjinya. Fred tersipu sambil mengucapkan maaf. Riona pun tersenyum dan menggandengnya untuk segera pergi dari tempat itu. Mereka pulang, membatalkan niat untuk belanja, karena waktu sudah terlalu sore.
Setelah kejadian itu, Fred mulai berubah-meskipun perlahan. Kabar terakhir yang kami dengar, mereka akan segera menikah di sebuah gedung di pinggir kota. Kok jadi cerita romantis, yah?

Marhaban Ya Ramadhan

Hari pertama kuliah di bulan Ramadhan sudah terlewati! Fiuuhh!! Perubahan yang cukup besar dengan kebiasaan gue kalo lagi di kampus. Misalnya, kalo biasanya nunggu jam kuliah tuh nongkrong di Jun's Cafe sambil ngopi, sekarang cukup duduk di bangku deket lapangan basket sambil ngobrol ama temen2. Itu juga omongannya musti rada2 direm kalo udah mulai ngecengin ato menghujat temen. Trus kalo biasanya mata tuh jelalatan liat yang bening2, sekarang musti ditahan. Nggak munafik lho, gw seneng kalo liat ce kampus yg aduhay-asoy-geboy-marenjoy, heheheh!! Trus kalo yang tadinya sholat-nya rada2 bolong, sekarang udah lumayan rajin. Yahh, begitulah. Yang penting usaha menuju kehidupan yang lebih baik. Okay, selamat menunaikan ibadah puasa yah! Semoga amal dan ibadah kita diterima oleh Allah SWT, amin!!

Personality

Di rumah lagi ada si Echa. Lagi ngebahas tugas dari dosen Komunikasi Bisnis, disuruh ngebahas buku "How to Wins Friends and Influence People-by Dale Carnegie" bagian bab "Call attention to people's mistakes indirectly". Garis besarnya yaitu bagaimana mengkoreksi orang lain tapi tidak dibenci karena itu. Setelah omongin macem-macem, ternyata bahasan kita nggak jauh dari masalah ego dan mekanisme pertahanan diri (dalam wujud pembelaan atau penentangan terhadap komentar atau kritik). Serta dibutuhkannya pendekatan persuasif untuk menghadapi situasi kayak gitu. Tapi ada masalah nih. Untuk landasan teori-nya, kita masih belum bisa dapetin bukunya Anna Freud tentang ego and defense mechanisms. Tapi pokok masalah-nya udah lumayan keraba, lah. Untuk sementara, kita pake buku "The Foundations of Personality-by Abraham Myrson" meskipun bahasan di buku ini lebih luas, serta beberapa halaman dari situs2 tentang personality. Pas lagi ngobrol, sempet ngebahas tentang personality temen-temen deket juga, lho! Heheheh, bukan berarti ngomongin orang nih. Cuma kebetulan, karakter orang yang paling kita tahu dan kita kenal (atau mungkin lebih cocok disebut "yang kita rasa kita tahu) yah temen deket kita itu. Dan kebetulan, mereka punya karakter yang berbeda-beda dilihat dari respon mereka terhadap situasi yang berbeda-beda sejak kita kenal. Tipikal gitu deh, meski bukan berarti kita mengkotak-kotakan kepribadian sesorang karena dengan gitu, kita bisa lebih mempersempit bahasan kita. Secara teknis, diskusi ini cukup dianggap berhasil meskipun masukan dari orang lain cukup minim. Tapi lumayan lahh. Soalnya, deadline tugas ini hari senin depan, man!! Musti fokus nih!!

ManuSia

Ada cerita menarik nih. Tadi siang, pas lagi bengong di jendela kamar, sambil ngeliatin orang yang berlalu-lalang. Heheheh, soalnya lagi santai, nggak banyak kerjaan. Tiba-tiba ada seorang bapak lewat. Penampilannya nggak ada yang spesial sih, biasa ajah. But, somehow, gw tertarik ama bapak ini. Doi terus noleh ke gw. Dan pada momen bertatapan itulah, gw ngerasa ada yang mengganjal di pikiran gw. Tiba-tiba gw langsung punya pertanyaan, "apa yang gw liat dan gw pikirin saat ini, apakah sama ama yang ada di pikiran bapak itu yah?". Bagaimana cara gw memandang bapak itu, apa sama dengan cara bapak itu memandang gw. Sampe akhirnya gw coba untuk menyelami pikiran bapak itu, yang lagi jalan diantara pohon-pohon di tengah hari, panas-panasan, trus menoleh ke sebuah rumah dan memandang wajah seorang pemuda yang juga sedang menatapnya. Dimana sebuah pekerjaan sudah menanti di depan mata, untuk menghidupi anak-anaknya yang lumayan banyak dari mulai balita sampe yang berumur 19 tahun. Meratapi istrinya yang sedang sakit keras. Sampe membayangkan masa kecil bapak itu yang hidup di dunia yang keras dengan segala terpaan musibah.
Atau mungkin, bapak itu sedang pergi ke sebuah café, untuk bertemu dengan rekan bisnis-nya, untuk membicarakan proyek ratusan dollar, sambil membayangkan wajah cerah keluarganya setelah mendengarkan rencana proyek tadi. Merencanakan untuk pergi umroh kalau dapat rezeki nanti.
Semua pikiran itu berlangsung cepat. Gw ngerasa heran banget, bagaimana seorang bapak yang sama sekali gw nggak kenal dan nggak pernah ketemu, bisa bikin gw kayak gini. Tapi akhirnya gw sadar. Kejadian ini bikin gw yakin akan status dan kedudukan manusia yang sederajat. Tentang hakekat manunggal-nya manusia di dunia yang hanya terpisahkan oleh dimensi pikiran dan jiwa mereka masing-masing. Tentang jaringan koneksi batin di atas dan di bawah alam sadar manusia. Tentang keberadaan dunia yang mutlak diberikan oleh Allah untuk manusia. Tentang pertanggungjawaban manusia nanti yang mewakili dimensi jiwa dan alam pikir mereka masing2 terhadap apa yang mereka lakukan pada dunia ini, pada manusia, dan pada Penciptanya. Tentang keberadaan fisik manusia yang nggak lain cuma segumpal tanah yang dibentuk jadi jantung, hati, kepala, tangan, dll. Tentang kekayaan, ketenaran, kecantikkan yang sama sekali nggak ada nilai-nya. Tentang kecilnya manusia di mata Sang Pencipta. Tentang gw yang dengan bego-nya sedang mempertanyakan keberadaan gw di dunia. Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar!!

Sekarang Jam Berapa, yah?

Kuliah pagi kesiangaaaann!!! Wadawwhh!! Padahal tadi jam 6 udah bangun, tapi malah ketiduran lagi. Dasar! Mana tadi tuh ada lab TI, jadi nggak masuk deh. Beginilah nasib pengidap penyakit insomnia. Berangkat ke tempat tidur jam 1, tapi baru merem jam 5 subuh!! Adugh, kayaknya gaya hidup gw udah balik lagi jadi kayak dulu. Siang tidur, malem insomnia.
Btw, mana nih anak-anak? Katanya mau briefing di rumah, buat acara festival nanti.

Tragedi Simplex, etc

Nggak ada kejadian yang spesial minggu ini. Cuma ada beberapa kejadian yang bikin pusing ajah, sekaligus bt! Not special, hah?

Tragedi Simplex

Hari jumat kemaren gw ikut kuliah MKDB (Metode Kuantitatif Dalam Bisnis). Sebenernya gue udah ngambil mata kuliah ini dua tahun yang lalu. Tapi nilai yang gue dapet cuma C, dan matkul ini nilainya 3 sks, jadi yah terpaksa ngulang buat ngedongkrak IPK. Yang menarik dari matkul ini tuh, Dosennya! Masih orang yang sama ama dua tahun yang lalu. Dan kalo boleh gw bilang, nih dosen error banget! Gak tau deh apa emang error dari sononya ato gara-gara dia ngerjain penelitian untuk titel S3-nya. Ampunn! Orangnya nggak rese2 banget sih, cuma jalan pikirannya aja aneh. Dan yang paling bikin gw bt, gw yang sekarang ini jadi rada2 lemot untuk mecahin masalah aritmatika. Suerr deh, ngitung pecahan aja jadi lama. Mungkin karena gue keseringan pake kalkulator untuk ngitung2 di problem Akuntansi. Dan kemaren itu gw sempet disuruh ngerjain soal yang kata dosennya tuh, soal matematika SD impress! Adawwh! Dan bener ajah, gw emang udah lemot. Pertanyaan ama jawaban gw nggak nyambung. Padahal tuh soal pernah jadi andalan gw waktu ujian di SLTP. Ampun deh Her, kemana aja?!

Ada TI, Ada TA

Heheheh, my own terms. Soalnya banyak orang bingung kalo merhatiin gw. Malah ada yang nanya, "Her loe tuh anak Ekonomi ato TI, sih?" Heheh, dan jawaban gw, "TA! Teknologi Akuntansi!". Mereka tuh bingung sama hobi gw yang suka ngoprek kompie. Tapi menurut gw biasa aja sih. Dari kecil gw emang suka banget ama kompie. Cinta malah! Ditambah lagi, gw seneng ngegambar dan maen game (sekarang dah jarang, nggak sempet euy!). Jadi hobi gua bisa gue salurin di dunia kompie.
Btw, waktu itu sempet liat MTV AjangAjeng. Bagus juga yah acaranya. Terlepas dari sisi realitasnya yang diragukan dan malah menurut gw absolutely unreality, asyik juga nonton acara ini, ngeliat karakter2 orang yang beda, sambil santai. Gw tertarik banget ama anak yang namanya Pia. Heheh, mirip banget ama Lala (siapa nih?!!) Udah cantik pinter pula! Agak kaget juga pas liat adegan waktu dia mau ujian. Nggak nyangka gitu, kirain ujian apaan. Ehh, pas liat bukunya, "C++: How To Be A Good Programmer". Aaawwhh!! What a smart girl! Sebenernya gw juga dulu udah pernah direkomendasiin ama temen untuk belajar bahasa progamming. At least, pick one of those language, katanya. Dan gw juga sempet belajar C++ yang basic-nya. Cuma yahh, karena gw ini lebih seneng ama dunia desain under www, jadi gw lebih milih belajar PHP. Tapi abis liat Pia itu, semangat gue bangkit lagi! Heheheh! Dasar gw, orangnya gampang banget terinspirasi. Gpp lah. Yang penting hal itu bagus buat kemajuan gue. Dan bisa jadi tambahan untuk proyek Sistem Informasi Akuntansi nanti.

Road to Festival

Hari sabtu nanti ada acara festival musik di Unpak. Gw ama temen2 berniat ikutan. Udah daftar malah. Niatnya sih mau bawain This Love-Maroon5 ama Time is Running Out-Muse. Sempet bingung juga sih mau milih Time is Running Out apa Hysteria. Dan setelah berembuk, akhirnya lagu pertama tadi yang dipilih. Oke, semoga kita bisa perform dengan sebaik mungkin. Btw, suaranya Iyo makin bagus yah! Progress-nya keliatan banget sekarang. Heheheh, nggak percuma gw tatar selama ini. Bayangin, waktu baru kenal aja udah gw bilangin supaya gini-gitu. Hihihih! Sori, Yo!
Anyway, sukses buat Echa yang mau ngomong something ama doi-nya. Lagian, loe tuh aneh sih orangnya. Doi bakalan salah ngerti kalo loe ngadepin dia sama kayak ngadepin gw ato temen2 yang laen. Tambah lagi, loe belom lama jalan ama doi. Tapi gw salut ama loe, Cha. Prinsip loe yang "be your self", kuat banget. "Kalo pengen nyamain presepsi, loe yang musti ngikut gw!" Heheheh, kedengeran egois emang. Tapi yahh, itulah loe! Sukses dehh!! btw, nyesel loe, nggak nonton golek kemaren malem. Cepot rocks banget!!! Si Aan sampe ngeri nontonnya! Heuahuehauheuah!!!

Tragedi Benchmark

Baru saja aku membalik beberapa halaman pada buku setebal sepuluh sentimeter ini, sambil menyeka keringat, ketika tiba-tiba kau datang menjejalkan beberapa lembar kertas dalam mulutku. Hanya beberapa lembar memang. Hanya berisi sketsa dunia antah berantah, trend fashion masa kini, serta typography masa lalu. Namun semua itu hampir membuatku muntah karena rasa yang menyelip dalam lidahku ini cukup aneh. Kau hanya tersenyum genit kearahku sambil melambaikan tangan, pergi, seakan mencemoohku. Hmmm... bukan... bukan mencemooh. Meledek!! Dasar wanita penggoda! Kupajang sketsa itu di tembok kamarku. Kujejalkan kertas trend fashion itu dalam lemariku. Dan kupakai kertas typograph untuk menambal langit-langitku yang bocor. Memang, kamarku jadi tambah nyaman. Setidaknya, nyaman hingga kau datang kembali dengan setumpuk kertas. Jangan dulu yah, Say!