Ada cerita menarik nih. Tadi siang, pas lagi bengong di jendela kamar,
sambil ngeliatin orang yang berlalu-lalang. Heheheh, soalnya lagi
santai, nggak banyak kerjaan. Tiba-tiba ada seorang bapak lewat.
Penampilannya nggak ada yang spesial sih, biasa ajah. But, somehow, gw
tertarik ama bapak ini. Doi terus noleh ke gw. Dan pada momen bertatapan
itulah, gw ngerasa ada yang mengganjal di pikiran gw. Tiba-tiba gw
langsung punya pertanyaan, "apa yang gw liat dan gw pikirin saat ini,
apakah sama ama yang ada di pikiran bapak itu yah?". Bagaimana cara gw
memandang bapak itu, apa sama dengan cara bapak itu memandang gw. Sampe
akhirnya gw coba untuk menyelami pikiran bapak itu, yang lagi jalan
diantara pohon-pohon di tengah hari, panas-panasan, trus menoleh ke
sebuah rumah dan memandang wajah seorang pemuda yang juga sedang
menatapnya. Dimana sebuah pekerjaan sudah menanti di depan mata, untuk
menghidupi anak-anaknya yang lumayan banyak dari mulai balita sampe yang
berumur 19 tahun. Meratapi istrinya yang sedang sakit keras. Sampe
membayangkan masa kecil bapak itu yang hidup di dunia yang keras dengan
segala terpaan musibah.
Atau mungkin, bapak itu sedang pergi ke sebuah café, untuk bertemu
dengan rekan bisnis-nya, untuk membicarakan proyek ratusan dollar,
sambil membayangkan wajah cerah keluarganya setelah mendengarkan rencana
proyek tadi. Merencanakan untuk pergi umroh kalau dapat rezeki
nanti.
Semua pikiran itu berlangsung cepat. Gw ngerasa heran banget, bagaimana
seorang bapak yang sama sekali gw nggak kenal dan nggak pernah ketemu,
bisa bikin gw kayak gini. Tapi akhirnya gw sadar. Kejadian ini bikin gw
yakin akan status dan kedudukan manusia yang sederajat. Tentang hakekat
manunggal-nya manusia di dunia yang hanya terpisahkan oleh dimensi
pikiran dan jiwa mereka masing-masing. Tentang jaringan koneksi batin di
atas dan di bawah alam sadar manusia. Tentang keberadaan dunia yang
mutlak diberikan oleh Allah untuk manusia. Tentang pertanggungjawaban
manusia nanti yang mewakili dimensi jiwa dan alam pikir mereka masing2
terhadap apa yang mereka lakukan pada dunia ini, pada manusia, dan pada
Penciptanya. Tentang keberadaan fisik manusia yang nggak lain cuma
segumpal tanah yang dibentuk jadi jantung, hati, kepala, tangan, dll.
Tentang kekayaan, ketenaran, kecantikkan yang sama sekali nggak ada
nilai-nya. Tentang kecilnya manusia di mata Sang Pencipta. Tentang gw
yang dengan bego-nya sedang mempertanyakan keberadaan gw di dunia.
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar!!
ManuSia
Wednesday, October 06, 2004 | Posted by Herry Iskandar at 11:25 AM
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
0 comments:
Post a Comment