Masih berbicara tentang tugas Komunikasi Bisnis gw. Akhirnya, setelah
perjuangan panjang, tugas itu selesai juga. Meski ada beberapa hal yang
bikin bete. Gara-gara deadline hari senin, gw ngerjain tugas itu
mati-matian, malah sampe bergadang ama si Echa, muter-muter Bogor pula,
tapi ternyata... eeehh, dosennya gak dateng!! Adawwhh!! Deritaku. Sabar,
Her, puasa nih!!
Anyway, dalam tugas itu, kita disuruh membuat sebuah ilustrasi tentang
pendekatan persuasif ketika kita menyampaikan kiritik pada orang lain.
Dan jadilah sebuah cerita pendek yang dikarang dengan nafas
tersengal-sengal. Jam 4 kuliah, mulai ngarang jam 3 pas!! Okay, ini
ceritanya!
Cintaku, jangan telat donk, say
Riona dan Fred (keduanya nama samaran) sudah cukup lama berpacaran.
Kira-kira 4 tahun sejak pertemuan pertama mereka di pentas seni antar
pelajar SMU di Bogor. Fred sudah tahu betul watak Riona, begitupun
sebaliknya, Riona sudah kenal betul siapa Fred.
Suka dan duka mereka lewati bersama selama menjalin hubungan, namun ada
satu hal yang mengganjal di pikiran Riona dan selalu menghias di setiap
pertemuan-pertemuan mereka berdua. Terlambat. Ya, Fred selalu terlambat
datang jika mereka telah berjanji untuk bertemu. Kadang-kadang lima
menit atau sampai sepuluh menit. Bahkan Riona pernah terpaksa menunggu
hampir satu jam di salah satu sudut pertokoan gara-gara Fred harus
mengurusi kepentingan teman-temannya. Tidak jelek memang, namun akan
lebih baik apabila kita memegang teguh komitmen dan menjalaninya.
Seringkali Riona marah. Tapi begitulah Fred, masih saja telat.
Riona mengerti sekali akan hal itu, ia kenal betul Fred. Fred memang
terkadang lalai akan kewajibannya dan pikirannya yang kurang fokus
terhadap suatu masalah. Tapi justru itulah yang membuat ia tertarik
untuk selalu dekat dengan Fred. Romantis, yah! Ironis pula. Tapi
bagaimanapun juga, kebiasaan telat ini harus dihentikan.
Beberapa pekan sebelum tahun baru, mereka berjanji bertemu untuk memilih
kado untuk adik Riona. Riona betul-betul bertekad untuk merubah
kebiasaan Fred yang selalu telat. Ia datang lebih awal-seperti
biasa-namun tidak duduk di tempat yang ia janjikan. Ia berdiri agak
menjauh sambil memperhatikan kedatangan Fred. Fred datang, akhirnya,
setelah duapuluh menit dari waktu yang dijanjikan. Ia duduk, bengong,
memandang orang yang berlalu-lalang. Ia tampak sesekali memandang
arlojinya.
Sudah empat puluh menit Fred menunggu. Banyak pikiran yang melintas di
otak Fred. Dan salah satunya, dia jadi tahu betul bagaimana rasanya
menunggu-yang konon seringkali dirasakan oleh Riona.
Riona akhirnya memutuskan untuk menghampiri Fred dan muncul tiba-tiba
dari arah belakang. "Nggak terlalu kesel kan, menunggu itu?" sambil
tersenyum, "asyik lho, kita jadi punya banyak waktu untuk merenung,
sambil liat orang lewat". Riona tidak bermaksud untuk membalas, karena
Riona memang selalu tepat waktu. Ia hanya ingin Fred lebih mengerti dan
lebih memegang janjinya.
Fred tersipu sambil mengucapkan maaf. Riona pun tersenyum dan
menggandengnya untuk segera pergi dari tempat itu. Mereka pulang,
membatalkan niat untuk belanja, karena waktu sudah terlalu sore.
Setelah kejadian itu, Fred mulai berubah-meskipun perlahan. Kabar
terakhir yang kami dengar, mereka akan segera menikah di sebuah gedung
di pinggir kota. Kok jadi cerita romantis, yah?
Does it works?
Monday, October 18, 2004 | Posted by Herry Iskandar at 9:13 AM
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
0 comments:
Post a Comment